Reinfeksi Covid-19

Pada 06 Oktober 2021 sebanyak 4.223.094 kasus SARS-CoV-2 telah dilaporkan di Indonesia dengan jumlah 4.052.300 orang dinyatakan pulih dari penyakit ini.1 Banyak dari pasien yang sudah pulih tersebut memiliki kekhawatiran apakah SARS-CoV-2 dapat menulari mereka lagi untuk yang kedua kalinya?  Seseorang dengan hasil tes positif untuk kedua kalinya setelah pemulihan dapat diduga sebagai infeksi ulang, positif yang terus menerus atau kekambuhan dari infeksi yang sama (relaps). Kasus dengan dugaan atau kemungkinan reinfeksi SARS-CoV-2 telah dilaporkan oleh berbagai negara seperti Hong Kong, Nevada, USA, Belgia, Ekuador dan India.2 Sebesar 90-99% individu yang terinfeksi virus  SARS-CoV-2 akan terdeteksi antibodi dalam 4 minggu setelah infeksi. Kadar antibodi yang muncul bervariasi berdasarkan usia dan tingkat keparahan gejala. Data ilmiah menunjukkan respon imun tetap kuat dan protektif terhadap infeksi ulang setidaknya selama 6-8 bulan setelah infeksi. 3

Apa itu reinfeksi? Reinfeksi adalah infeksi dengan strain baru SARS-CoV-2 pada individu yang telah pulih dari infeksi COVID-19. Beberapa kasus infeksi ulang yang dilaporkan disebabkan oleh jenis virus yang berbeda. Bagaimana cara memastikan seseorang benar-benar reinfeksi? Salah satu cara untuk memastikan seseorang mengalami reinfeksi COVID-19 adalah dengan whole genome sequencing (WGS). Hal ini bertujuan untuk mengetahui potensi variasi susunan materi genetik virus antara masa infeksi pertama dan kedua. Hingga kini belum diketahui pasti sesering apa reinfeksi COVID-19 dapat terjadi, namun sejauh ini diduga frekuensinya jarang. Pasien yang mengalami re-infeksi dapat mengalami spektrum keluhan yang luas, mulai dari tanpa gejala hingga keluhan berat. Kondisi pasien yang mengalami reinfeksi COVID-19 dapat mengalami keluhan yang sama, lebih ringan maupun lebih berat antara infeksi pertama dan infeksi kedua.4

Saat ini terdapat tiga varian virus yang telah masuk di Indonesia yaitu B117, B1351 dan B1617. Ketiga varian tersebut digolongkan dalam Varian of Concern (VoC). Kegiatan WGS sebagai salah satu bagian dari kegiatan surveilans genom virus SARS-COV-2 juga telah dilakukan sejak virus ini masuk ke Indonesia. Data hasil pemeriksaan genom ini diunggah ke repository Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID).5 Munculnya varian virus dapat menimbulkan tantangan dan potensi untuk menghindar dari kekebalan yang ditimbulkan baik oleh infeksi alami maupun vaksinasi. Pengawasan untuk mendeteksi infeksi ulang dan memahami prediktor imunologis infeksi ulang sangat penting dilakukan dalam mencegah gelombang pandemi di masa depan.

Dalam menghadapi adaptasi kebiasaan baru menuju masyarakat yang produktif dan aman terhadap COVID-19 kita harus tetap mematuhi dan menerapkan protokol kesehatan. Selalu menjalankan 5M yaitu memakai masker dengan benar, memcuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak aman 1,5-2 meter dengan orang lain, menjauhi kerumunan saat di luar rumah dan mengurangi mobilitas kecuali untuk keperluan mendesak. (nhs)

Sumber:

1.           Kementerian Kesehatan RI. Situasi COVID-19 (kumulatif). Kementerian Kesehatan RI. https://www.kemkes.go.id/index.php. Published 2021.

2.           European Centre for Disease Preventetion and Control. Reinfection with SARS-CoV-2: considerations for public health response. Ecdc. 2020;(September):1-14. https://www.ecdc.europa.eu/en/publications-data/threat-assessment-brief-reinfection-sars-cov-2.

3.           World Health Organization. COVID-19 Natural Immunity.; 2021.

4.           Pinto LM, Nanda V, Sunavala A, Rodriques C. Reinfection in COVID-19: A scoping review. Med J Armed Forces India. 2021;77(June):S257-S263. doi:10.1016/j.mjafi.2021.02.010

5.           Kementerian Kesehatan RI. Mutasi Virus Corona Lebih Cepat Menular, Masyarakat Dihimbau Perketat Disiplin Protokol Kesehatan. Kementerian Kesehatan RI. https://www.kemkes.go.id/article/view/21030500001/mutasi-virus-corona-lebih-cepat-menular-masyarakat-dihimbau-perketat-disiplin-protokol-kesehatan.html. Published 2021.